Aiza adalah seorang guru di salah satu Community Learning Centre (CLC) di Sabah, Malaysia. Setiap hari, ia mengajar anak-anak pekerja migran dengan semangat, meski fasilitas di sekolahnya sederhana. Namun di balik kesibukannya, Aiza juga seorang mahasiswi Universitas Terbuka (UT).
“Bu, itu apa di layar laptopnya?” tanya salah satu muridnya saat melihatnya sibuk mengetik di sela-sela istirahat.
“Ibu sedang mengerjakan tugas kuliah,” jawab Aiza sambil tersenyum.

Kuliah di UT adalah impian yang ia perjuangkan sejak lama. Sebagai guru, ia ingin meningkatkan kompetensi untuk memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya. Namun, belajar sambil bekerja di Malaysia tentu bukan hal yang mudah.
Sistem pembelajaran jarak jauh di UT memungkinkan Aiza mengakses materi kapan pun. Di malam hari, setelah selesai mempersiapkan materi mengajar, ia membuka laptop untuk membaca modul atau berdiskusi di forum daring bersama teman-teman kuliahnya. Kadang, ia mengisi akhir pekan dengan mengerjakan tugas atau mengikuti Tutorial Online.

Aiza juga merasa senang saat bertemu dengan mahasiswa lain di pertemuan tatap muka. Bertukar cerita tentang kehidupan di Malaysia, berbagi strategi belajar, hingga mendiskusikan metode pengajaran baru menjadi pengalaman yang memperkaya pikirannya sebagai seorang guru.

Tapi perjalanan ini tidak selalu mulus. Ada malam-malam di mana ia merasa sangat lelah setelah seharian berdiri di depan kelas, belum lagi harus menghadapi ujian atau tenggat tugas yang semakin mendekat. Koneksi internet yang kurang stabil di daerahnya juga sering membuatnya kesal ketika mencoba mengunggah tugas.

Pernah suatu saat Aiza harus bolak-balik ke warnet terdekat demi menyelesaikan ujian daring. Dengan menahan rasa kantuk, ia tetap bertahan, karena tekad untuk meraih gelar sarjana begitu besar.
Pelajaran Berharga
Meski berat, perjalanan ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi Aiza. Ia belajar manajemen waktu yang lebih baik, bagaimana mengatur prioritas antara pekerjaan, kuliah, dan kehidupan pribadinya. Bahkan, ide-ide dari materi UT kerap ia terapkan dalam pengajaran sehari-hari, membuat kelasnya semakin menarik bagi murid-murid.
“Kalau Ibu bisa belajar sambil kerja, kalian pun harus semangat belajar,” ujar Aiza suatu kali kepada murid-muridnya. Kata-kata itu bukan sekadar nasihat, tapi juga cermin perjuangan yang nyata.
Menggapai Cita-cita
Kini Aiza sedang menyusun tugas akhirnya. Ia bercita-cita menggunakan ilmu yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak migran di Sabah. Baginya, UT bukan sekadar tempat kuliah, tapi juga jembatan untuk mewujudkan mimpi dan harapan.
Cerita Aiza adalah bukti bahwa meski belajar sambil bekerja penuh tantangan, dengan niat dan usaha, segalanya mungkin dicapai.

Penulis : Aiza Sunarto
Prodi : S1 PGSD
UT Tarakan (Kinabalu)